Potensi Wisata

KECAMATAN Baleendah, Kab. Bandung menyimpan sejumlah potensi di bidang objek wisata, fasilitas pemerintahan, pendidikan, daerah penyangga, dan lain-lain. Namun di sisi lain, sebagian wilayah Kec. Baleendah, khususnya Kelurahan Andir dan Baleendah, merupakan daerah rawan banjir.

Di Kel. Jelekong dikembangkan objek wisata yang disebut sebagai desa wisata, yaitu objek wisata Gentong. Pengembangan objek wisata tersebut baru dilakukan tahun ini, melalui peran aktif pemerintahan setempat dibantu karang taruna dan sumber daya masyarakat.

Ketua Agro Wisata Gentong, Idas Koswara mengatakan, untuk pengembangan tahap awal, objek wisata Gentong membutuhkan dana sebesar Rp 500 juta. “Dana sebesar itu dibutuhan untuk pembangunan infrastruktur, mulai dari pembangunan jalan hingga pembangunan sarana lainnya di lokasi wisata tersebut. Kemungkinan biaya yang cukup besar adalah untuk pembangunan jalan menuju lokasi wisata sepanjang 2,1 km dengan ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan halaman Kantor Kel. Jelekong,” jelas Idas didampingi Kasi Pemerintahan Kel. Jelekong, Dadan Sundana kepada “GM” di Kantor Kec. Baleendah, Selasa (1/9).

Menurutnya, jalan menuju lokasi wisata sudah diaspal, namun kondisinya tidak memungkinan karena lebarnya hanya tiga meter. Dengan adanya bantuan, jalan tersebut bisa diperlebar menjadi lima meter.

Ditambahkan Dadan, untuk menambah daya tarik, pengelola objek wisata melengkapinya dengan sarana hiburan, berupa flying fox, ram berjalan, dan berbagai sarana kesenian tradisional (singa depok dan gajah depa) yang ditampilkan di lokasi tersebut. “Bentuk sosialisasi dilakukan dengan cara menggelar gerak jalan santai. Kegiatan itu dilaksanakan pihak kecamatan,” ujarnya.

Selama setahun ini, setiap Minggu atau hari libur, objek wisata tersebut diburu ribuan wisatawan domestik. Apalagi selama bulan suci Ramadan, hampir setiap hari banyak yang berkunjung guna menikmati waktu ngabuburit.

Selain terdapat objek wisata, di Kec. Baleendah juga terdapat fasilitas pemerintahan. Seperti Pengadilan dan Kejaksaan Negeri Bale Bandung, Kantor Departemen Agama Kab. Bandung, universitas dan sekolah tinggi, serta sarana pendidikan lainnya. Terdapat pula rumah sakit besar, lembaga pemasyarakatan narkotika yang baru dibangun belum lama ini, dan sentra bisnis lainnya.

Rawan banjir

Di lain pihak, ada hal lain yang membuat warga terpuruk. Seperti yang dialami sedikitnya 3.000 kepala keluarga (KK) di Kelurahan Andir. “Sejak tahun 1980-an, mereka dipusingkan dengan sering terjadinya bencana banjir. Karena, Kel. Andir merupakan kawasan rawan banjir,” kata Kepala Kelurahan Andir, Drs. Koswara.

Menurut Koswara, kelurahan tersebut rawan banjir karena sangat berdekatan dengan bantaran Sungai Citarum. Sehingga kalau turun hujan, aliran Sungai Citarum langsung meluap. Apalagi sungai tersebut mengalami pendangkalan akibat erosi yang terjadi di hulu hingga hilir sungai. “Upaya normalisasi harus dilakukan mulai dari hulu hingga hilir,” katanya.

Menurutnya, ribuan kepala keluarga di Kelurahan Andir baru tidak kebanjiran pada Juli lalu. Sedangkan pada bulan Juni, kata Koswara, Kelurahan Andir masih terendam banjir. “Yang jelas, selama 2009, Kel. Andir sudah 17 kali diterjang bencana banjir. Belum lagi banjir kecil yang tidak dihitung. Puncak bencana banjir terjadi pada 3 Desember 2008, yaitu 2,5 meter,” katanya. (engkos kosasih/”GM”)**

Dicopy dari: http://ayokebandung.net/2009/12/bandung-travel-guide-4/